Kisah berlanjut setelah Nabi Adam AS dan Hawa turun ke bumi. Mereka harus beradaptasi dengan kehidupan duniawi yang memerlukan kerja keras untuk mendapatkan makanan dan tempat tinggal. Dari pernikahan mereka, lahirlah anak-anak yang menjadi awal mula populasi manusia.
Berikut adalah kisah Qabil dan Habil, tragedi pertama dalam sejarah manusia:
1. Kelahiran Anak-Anak Adam
Menurut banyak riwayat tafsir, Hawa selalu melahirkan anak kembar sepasang (laki-laki dan perempuan). Pasangan pertama adalah Qabil dan saudara perempuannya (Iqlima), sedangkan pasangan kedua adalah Habil dan saudara perempuannya (Labuda).
Untuk melestarikan keturunan, Nabi Adam AS diperintahkan oleh Allah untuk menikahkan anak-anaknya secara silang: Qabil dengan Labuda, dan Habil dengan Iqlima.
2. Akar Konflik: Iri Hati
Qabil menolak perintah tersebut. Ia merasa Iqlima (saudara kembarnya) jauh lebih cantik daripada Labuda, sehingga ia merasa lebih berhak menikahi Iqlima. Kesombongan dan hawa nafsu mulai meracuni hati Qabil, mirip dengan sifat Iblis saat menolak bersujud kepada Adam.
3. Ujian Kurban
Untuk menyelesaikan perselisihan tersebut, Nabi Adam AS memerintahkan keduanya untuk mempersembahkan kurban kepada Allah. Siapa yang kurbannya diterima, dialah yang berhak menentukan pilihannya.
Habil: Seorang peternak yang murah hati. Ia memilih kambing terbaik dan paling gemuk dari ternaknya untuk dikurbankan.
Qabil: Seorang petani yang kikir. Ia mempersembahkan hasil pertanian yang buruk dan sudah rusak.
Allah SWT menerima kurban Habil (ditandai dengan turunnya api dari langit yang mengambil kurban tersebut) dan menolak kurban Qabil karena ketidaktulusannya.
Dalil Al-Qur'an (QS. Al-Ma'idah: 27):
"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata: 'Aku pasti membunuhmu!'. Berkata Habil: 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa'."
4. Pembunuhan Pertama di Bumi
Terbakar api cemburu, Qabil mengancam akan membunuh Habil. Respon Habil menunjukkan ketakwaan yang luar biasa: ia menolak untuk membalas kekerasan dengan kekerasan.
Dalil Al-Qur'an (QS. Al-Ma'idah: 28):
"Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam."
Namun, Qabil tetap membunuh Habil. Inilah tumpahnya darah manusia pertama kali di muka bumi. Setelah membunuh, Qabil merasa bingung dan ketakutan tentang apa yang harus dilakukan dengan jenazah saudaranya.
5. Pelajaran dari Burung Gagak
Allah kemudian mengirimkan bantuan berupa seekor burung gagak untuk memberi pelajaran bagi manusia yang baru saja berbuat dosa besar itu.
Dalil Al-Qur'an (QS. Al-Ma'idah: 31):
"Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: 'Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?' Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal."
Hadis Terkait Tragedi Qabil & Habil
Dampak dari perbuatan Qabil sangatlah berat secara spiritual. Rasulullah SAW bersabda:
"Tidaklah satu jiwa pun terbunuh secara zalim, melainkan anak Adam yang pertama (Qabil) ikut menanggung dosa dari penumpahan darah tersebut, karena dialah orang pertama yang mencontohkan pembunuhan." (HR. Bukhari & Muslim).
Hikmah Utama:
Bahaya Hasad (Iri Hati): Hasad adalah dosa pertama di langit (Iblis kepada Adam) dan dosa pertama di bumi (Qabil kepada Habil).
Keikhlasan dalam Beribadah: Allah tidak melihat bentuk kurbannya, melainkan ketakwaan dan keikhlasan hati pelakunya.
Tanggung Jawab Moral: Setiap orang yang memulai suatu perbuatan buruk akan menanggung dosa dari orang-orang yang mengikuti jejaknya setelahnya.
Setelah wafatnya Habil, Nabi Adam AS dikaruniai putra lagi bernama Syits (yang berarti "Hadiah dari Allah"), yang kelak meneruskan kenabian dan memberikan bimbingan bagi keturunan Adam lainnya.

